
Perdagangan dan Import Barang dari China: Strategi Bisnis Global yang Menguntungkan
02/18/2026
Analisa Produk yang Paling Laku Untuk Diimpor
02/21/2026Kesalahan Impor Paling Umum di Indonesia

Aktivitas impor di Indonesia semakin meningkat, baik untuk kebutuhan bahan baku, produk retail, hingga mesin industri.
Namun, di balik peluang keuntungan yang besar, banyak pelaku usaha—terutama importir pemula—yang masih melakukan
kesalahan impor paling umum di Indonesia.
Agar bisnis Anda berjalan lancar, berikut pembahasan lengkapnya beserta solusi praktis yang bisa diterapkan.
1. Tidak Memahami Regulasi dan Perizinan Impor
Kesalahan paling mendasar adalah tidak memahami aturan yang berlaku sebelum melakukan transaksi dengan supplier luar negeri.
Untuk melakukan impor secara legal, pelaku usaha wajib memiliki:
- NIB (Nomor Induk Berusaha)
- API (Angka Pengenal Importir)
- Akses kepabeanan
- Dokumen impor seperti Invoice, Packing List, Bill of Lading/AWB
Selain itu, beberapa produk tertentu memerlukan izin tambahan seperti SNI, BPOM, atau sertifikasi teknis lainnya.
Jika tidak memahami regulasi, barang bisa tertahan atau bahkan dikenakan sanksi oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Solusi: Selalu cek regulasi terbaru sebelum impor dan pastikan HS Code serta perizinan barang sudah sesuai.
Baca juga:
Layanan Mauimport.id
untuk bantuan proses impor dari awal sampai barang tiba.
2. Salah Menghitung Total Biaya Impor (Landed Cost)
Banyak importir hanya fokus pada harga barang dari supplier (FOB price), tanpa menghitung seluruh komponen biaya hingga barang tiba di gudang.
Padahal biaya impor mencakup:
- Freight (ongkos kirim internasional)
- Asuransi
- Bea Masuk
- PPN dan PPh
- Biaya handling pelabuhan
- Jasa forwarder atau PPJK
Akibatnya, margin keuntungan menjadi sangat tipis atau bahkan merugi.
Solusi: Lakukan simulasi perhitungan landed cost sebelum deal dengan supplier. Hitung semua komponen biaya secara detail agar harga jual tetap kompetitif dan menguntungkan.
Referensi cepat:
FAQ Mauimport (Estimasi & Biaya).
3. Tidak Mengecek Kredibilitas Supplier
Kesalahan impor paling umum di Indonesia berikutnya adalah terlalu percaya pada supplier tanpa melakukan verifikasi.
Beberapa risiko yang sering terjadi:
- Barang tidak sesuai spesifikasi
- Kualitas di bawah sampel
- Pengiriman terlambat
- Penipuan (supplier fiktif)
Solusi:
- Lakukan background check perusahaan
- Minta legalitas dan profil perusahaan
- Gunakan jasa inspeksi pihak ketiga
- Hindari pembayaran 100% di awal
Verifikasi supplier adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan bisnis Anda dari kerugian besar.
Anda bisa mulai dari panduan ini:
Supplier China Terbaik: Panduan Verifikasi & Risiko.
4. Salah Klasifikasi HS Code
HS Code (Harmonized System Code) menentukan besaran bea masuk dan pajak impor. Kesalahan dalam menentukan HS Code bisa menyebabkan:
- Kekurangan bayar bea masuk
- Denda administrasi
- Pemeriksaan tambahan oleh Bea Cukai
Jika terjadi selisih tarif, importir tetap wajib melunasi kekurangannya.
Solusi: Pastikan HS Code sesuai dengan spesifikasi barang. Jika ragu, konsultasikan dengan PPJK atau profesional kepabeanan agar tidak terjadi kesalahan klasifikasi.
5. Mengabaikan Asuransi Pengiriman
Dalam pengiriman internasional, risiko selalu ada. Mulai dari kerusakan barang, kontainer jatuh, hingga keterlambatan kapal.
Sebagian importir memilih tidak menggunakan asuransi demi menghemat biaya. Padahal, jika terjadi kerusakan, kerugian sepenuhnya ditanggung sendiri.
Solusi: Gunakan asuransi kargo dan pahami skema Incoterms (FOB, CIF, dll.) agar jelas siapa yang menanggung risiko selama proses pengiriman.
6. Tidak Memahami Incoterms dengan Benar
Banyak importir salah memahami Incoterms. Contohnya:
- Mengira CIF berarti semua biaya sampai gudang sudah termasuk.
- Menganggap FOB berarti supplier menanggung seluruh risiko pengiriman.
Padahal, Incoterms hanya mengatur pembagian tanggung jawab hingga titik tertentu. Kesalahpahaman ini sering menimbulkan konflik antara buyer dan supplier.
Solusi: Pelajari Incoterms secara menyeluruh sebelum menyepakati kontrak pembelian.
7. Kurang Perencanaan Lead Time
Proses impor tidak instan. Ada banyak tahapan yang memerlukan waktu, seperti:
- Waktu produksi di pabrik
- Waktu pengiriman laut (bisa 3–6 minggu)
- Proses customs clearance
- Potensi antrean atau pemeriksaan di pelabuhan
Tanpa perencanaan matang, bisnis bisa mengalami kehabisan stok dan kehilangan peluang penjualan.
Solusi: Buat timeline impor yang realistis dan siapkan buffer time untuk mengantisipasi keterlambatan.
Jika fokus Anda impor dari Tiongkok, Anda bisa mulai dari:
Panduan Import Barang dari China.
Kesimpulan
Melakukan impor memang membuka peluang keuntungan besar, tetapi juga memiliki risiko yang tidak kecil.
Memahami kesalahan impor paling umum di Indonesia adalah langkah penting untuk menghindari kerugian.
Sebagai pelaku usaha, Anda tentu ingin proses impor berjalan lancar, aman, dan tetap menguntungkan.
Namun seperti yang sudah dibahas, kesalahan kecil dalam regulasi, perhitungan biaya, atau pemilihan supplier bisa berdampak besar pada cash flow dan kelangsungan bisnis.
Butuh Bantuan Agar Impor Lebih Aman & Terarah?
Kalau Anda ingin mulai impor tapi masih ragu soal dokumen, perhitungan pajak, verifikasi supplier, atau ingin memastikan prosesnya lebih aman dan terarah, tim Mauimport.id siap membantu dari awal sampai barang tiba di gudang Anda.
Kami membantu Anda memahami alur impor secara praktis, transparan, dan minim risiko—baik untuk pemula maupun pelaku usaha yang ingin scale up bisnisnya.
Jangan tunggu sampai barang tertahan atau biaya membengkak. Mulai impor dengan strategi yang tepat bersama partner yang berpengalaman.
Mau impor tanpa ribet? Mauimport.id solusinya.



